Jumlah investor saham di Indonesia melesat dari 3,45 juta investor per Desemeber 2022 menjadi 3,75 juta investor per Maret 2022 atau mengalami kenaikan sebesar 6.57%.

Namun saya yakin tidak semua sudah mempunyai ilmu dan bisa menyusun portofolionya dengan baik.

Ada yang setiap melihat saham bagus langsung beli tau-tau portofolionya seperti supermarket alias semua ada walopun dengan lot kecil-kecil.

Ada yang setiap ada saham yang rame dibahas langsung ikut beli.

Namun ada yang hanya beli cuma 2 saja.

Mana yang terbaik? Tentu saja semua baik karena sesuai dengan keyakinan yang dimiliki.

Kunci di bursa saham adalah memiliki keyakinan atas setiap saham yang dibeli.

Sudah hanya begitu saja? Tentu saja belum karena ada hasil yang biasa saja namun ada hasil yang optimal.

Contohnya begini

Dengan uang Rp 100juta Bapak Adam membeli 25 saham alias per saham mempunyai bobot Rp 4juta.

Singkat cerita ada 5 saham bapak Adam yang bagger alias naik 100% artinya ada 5 saham yang tadinya 4 juta menjadi 8 juta sehingga total nilai portonya sebesar Rp 40 Juta + 80 Juta = 120 Juta.

Disisi lain dengan uang Rp 100juta Bapak Iwan membeli 5 saham alias per saham memiliki bobot Rp 20juta.

Bapak Iwan juga mempunyai saham yang bagger tetapi hanya 2 saja alias ada yang naik menjadi Rp 40 juta sehingga total portonya menjadi Rp 80 juta + 60 Juta = Rp 140 Juta.

Itulah yang disebut dengan hasil optimal.

Nah kali ini saya akan mencoba membahas tentang cara menyusun portofolio berdasar sifat kita.

Tentu saja masing-masing dari kita ada yang sifatnya agresif di bursa saham walopun dalam konteks investasi ya. Kalo bisa dapat cuan yang optimal.

Namun ada juga yang sifatnya slow banget yang penting cuan dan malas memperhatikan setiap gerak sahamnya. Pokoknya asetnya naik aja tanpa banyak-banyak campur tanganlah.

Dengan masing-masing uang Rp 100juta maka berikut ini susunannya ya. Tapi ingat ini hanya tutorial dan tentu saja tidak akan bisa cocok bagi setiap orang. Kalo ada pertanyaan tinggalkan saja di kolom komentar.

Catatan :

  • Cuan yang diharapkan optimal saja ya. Beda ya optimal dengan maksimal? Beda dong. Optimal itu mendapat yang terbaik sesuai dengan upayanya. Maksimal itu sebanyak-banyaknya kadang sampe upayanya agak over.
  • Proses membelinya tidak saya bahas ya karena tentu saja akan ada banyak pertimbangan seperti harga komoditasnya dimana, harga wajarnya berapa dll. Yang saya tekankan adalah komposisi
  • Penyebutan nama saham hanyalah contoh saja

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Temukan Saham Fundamental Bagus, Undervalue dan Di Bawah Rp 1000/ lembar

1. Tipe agresif

Tipe agresif tentu saja mempunyai keberanian untuk mempertaruhkan uang dan waktunya sehingga akan lebih cocok untuk memilih saham-saham berikut ini

  • 3 saham siklikal (60 Juta)

Saham siklikal akan memberikan return yang menurut saya jauh lebih besar dibanding saham-saham jenis lainnya karena biasanya perusahaan siklikal juga mampu meningkatkan laba dan dividennya saat harga komoditasnya naik.

Tapi tentu saja waktu membelinya juga harus dipertimbangkan ya.

Contoh ITMG, MBAP, SMDR

  • 1 saham growth (10 Juta)

Membeli saham growth jelas bukan sedang mencari saham yang memberi dividen besar namun mempunyai potensi capital gain yang lebih besar.

Contoh ISSP, ARNA, PBID

  • 1 saham dividen besar (20 Juta)

Untuk dividen besar tentu saja lagi-lagi saham siklikal yang mampu memberikan potensi dividen besar.

Contoh ITMG, MBAP

Kalo misal ITMG sudah dipilih sebagai saham siklikal maka saham dividen besarnya jangan ITMG lagi ya.

  • Uang cash (10Juta)

Memiliki dana di RDN hukumnya WAJIB ya biar kita berjaga-jaga.

2. Tipe menengah

Tipe investor yang kedua ini sifatnya menengah alias ya cari cuan saja tetapi kalo bisa ya yang lumayanlah. Tidak terlalu agresif namun masih tetap mengikuti perkembangan yang ada

  • 2 saham growth (40 Juta)

Ingat ya di saham growth seperti ini bukan untuk mencari dividen tetapi mencari saham yang berpotensi naik karena capital gainnya.

Contoh ISSP, ARNA, PBID

  • 2 dividen besar (40 Juta)

Sekali lagi saham yang mampu memberi dividen besar memang hanya saham siklikal namun kita coba saham lain yang bisa memberi dividen besar tapi non komoditas. Kenapa non komoditas karena kan tidak aktif memantau tetapi hanya mengikuti saja.

Contoh KDSI, TOTL, POWR

  • 1 siklikal (10Juta)

Walopun tipe menengah namun tetap sebaiknya ada saham siklikal dan memberi dividen besar juga ya…

Contoh ITMG, MBAP

  • Uang cash (10Juta)

Memiliki dana di RDN hukumnya WAJIB ya biar kita berjaga-jaga.

3. Tipe slow

Tipe yang ketiga ini relatif sudah kaya dan masuk ke bursa saham memang hanya untuk menabung bukan untuk menambah kekayaan yang masif sehingga benar-benar buy and hold saja. Mungkin mampir pas LK-nya keluar.

Tipe slow ini tentu saja tidak terlalu cocok membeli saham siklikal sehingga akan membeli saham-saham yang sedang tumbuh dan sudah mature. Disisi lain tetap yang bisa memberi dividen lumayan.

  • 2 saham growth (40juta)

Contoh SIDO, ARNA, MARK

  • 3 saham bluechip (60 Juta)

Contoh HMSP, TLKM

Untuk tipe slow ini tidak perlu berjaga-jaga uang cash karena memang tidak akan memantau dan uang cashnya datang dari dividen yang dibagikan

Itulah contoh menyusun portofolio berdasar tipe investornya.

Kalo kita masih ingin menambah kekayaan secara masif melalui bursa saham sebaiknya kita memilih tipe agresif.

Kalo kita ingin menambah pemasukan bisa masuk ke tipe menengah

Tetapi kalo kita sudah kaya dan hanya ingin mendiversifikasi portofolio kekayaan bisa masuk ke tipe slow.

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Temukan Saham Fundamental Bagus, Undervalue dan Di Bawah Rp 1000/ lembar

Sumber :

1. https://www.bareksa.com/

(Sudah dibaca 232 kali, Yang membaca hari ini 1 orang)
Share:

Yuk share pendapatmu di bawah ini