Part 2 : Panduan Cara Memilih Reksadana Bagi PEMULA Dan Reksadana Apa Yang COCOK Untuk SAYA

Setelah kemaren menulis lengkap tentang apa itu reksadana, sekarang saya akan menulis serta merangkum tentang cara memilih reksadana yang tepat sesuai kebutuhan. Oh ya kalian tetap WAJIB membaca tentang apa itu reksadana agar nantinya saat ada kosakata disini kalian sudah paham Mengenal LEBIH DEKAT Dengan REKSADANA

Saat masuk ke forum-forum reksadana banyak sekali teman-teman yang masih menanyakan hal berikut

“Kalo untuk waktu 1 tahun reksadana apa yang bagus”

“Saya ada dana nganggur 10juta baiknya dibelikan reksadana apa ya?”

Melihat pernyataan seperti itu membuat saya lumayan tergelitik dan disini saya akan mencoba memberikan panduan bagi kalian untuk memilih reksadana yang sesuai.

Mohon dibaca pelan-pelan ya karena artikelnya lumayan panjang.

Temukan Saham Fundamental Bagus, Undervalue dan Di Bawah Rp 1000/ lembar

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Follow Instagram InveStory ID untuk hiburan bursa saham

A. Pahami profil investor

Jelas no 1 adalah memahami diri sendiri terlebih dahulu sebelum membeli reksadana.

Ada 3 profil investor yang seharusnya kita ketahui dan kita sesuaikan dengan diri kita yaitu :

1. Konservatif (Penghindar Risiko/Risk Averter)

Tipe konservatif adalah tipe investor dengan profil risiko paling rendah.

Ciri-cirinya, investor seperti ini menginginkan investasi yang aman, tingkat imbal hasil (return) cenderung stabil, dan takut kalau investasi pokok berkurang.

Dengan kata lain, investor konservatif cenderung memilih jenis investasi yang stabil, berisiko rendah atau bahkan tidak ada risiko sama sekali.

2. Moderat

Tipe moderat adalah tipe investor dengan profil risiko sedang.

Investor tipe moderat biasanya memiliki tujuan finansial jangka menengah, dan siap dengan tingkat return yang fluktuasinya tidak signifikan, tetapi masih tidak terlalu berani mengambil risiko.

Untuk investor bertipe moderat, mereka masih bisa metoleransi risiko dalam berinvestasi. Tetapi tidak untuk risiko yang tergolong besar.Kemudian, mereka masih tetap berhati – hati dalam memilih instrumen investasi yang aman.

3. Agresif (Penyuka Risiko/Risk Taker)

Tipe agresif adalah tipe investor dengan profil risiko yang tinggi. Investor tipe ini sangat siap jika investasi pokoknya berkurang atau hilang demi imbal hasil yang juga tinggi. Biasanya investor yang seperti ini adalah investor yang sudah berpengalaman.

Tipe investor agresif ini adalah tipe investor yang sudah terbiasa terhadap fluktuasi harga pasar modal, bahkan terhadap fluktuasi yang tergolong ekstrim. Tipe investor agresif ini juga tidak takut untuk menaruh modal di instrumen investasi yang memiliki risiko tinggi.

Dengan memahami profil resiko maka kita akan lebih mudah dalam memilih reksadana yang ada dan tidak akan ada kekhawatiran tentang investasinya, karena masih ada pemula yang berinvestasi di reksadana saham dan setiap hari curhat di grup-grup Facebook kalo investasinya turun.

B. Time horizon

Memang sebaiknya yang dinamakan investor adalah berinvestasi di instrumen yang memerlukan jangka waktu tertentu.

Dan jangka waktu yang relatif ideal untuk reksadana adalah

1. Jangka pendek (1-3 tahun)

Tujuan jangka pendek ini di kisaran 1 tahun sampe 3 tahun ke depan. Tujuan jangka pendek ini misalnya mau membayar kontrakan atau kos yang per tahun, untuk membayar biaya masuk anak sekolah

2. Jangka menengah (3-5 tahun)

Tujuan jangka menengah ini di kisaran 3 sampe 5 tahun.

Contoh tujuan jangka menengah ini misalnya membayar biaya masuk anak ke SMP dan saat ini si anak masih kelas 2 atau 3 SD. Membayar biaya kontrakan yang minimal kontraknya di atas 2 tahun, biaya persiapan menikah dsb

3. Jangka panjang (5 tahun ke atas)

Tujuan jangka panjang ini bisa di kisaran lebih dari 5 tahun. Tujuan jangka panjang ini lebih mendekati investasi yang memang benar-benar lama seperti persiapan membangun rumah, biaya pendidikan anak (sekarang si anak masih SD tetapi sudah menabung untuk biaya kuliah anak).

Jadi saya sarankan bagi teman-teman yang ingin masuk ke reksadana hanya dalam waktu kurang dari 1 tahun maka sebaiknya diurungkan walopun memang ada reksadana yang sesuai seperti reksadana pasar uang.

Tetapi saran saya mending uangnya ditabung atau dimasukkan ke deposito.

C. Modal

Baca  Part 1 : Mengenal LEBIH DEKAT Dengan REKSADANA

Pemahaman tentang modal ini juga perlu diperhatikan.

Ada yang mempunyai konsep sekali beli (lumpsump) contoh membeli reksadana A langsung menggunakan uang Rp 10juta.

Ada yang menggunakan dicicil per bulan atau per periode tertentu misal membeli reksadana A setiap tanggal 2 setelah gajian.

Efektif yang mana untuk keuntungannya? Masing-masing ada keuntungan dan kelemahannya. Teman-teman bisa membaca artikel disini tentang 2 konsep ini

Dalam Membeli Reksadana/ Saham Mending Lumpsup atau DCA? Miskonsepsi Yang Ada Di Metode Lumpsump

Selain itu juga besaran modalnya. Kita anggap kalo modal di bawah Rp 10juta kecil ya dan di atas 10juta besar (Panduan ini khusus pemula ya jadi Rp 10juta dianggap angka yang pas)

Temukan Saham Fundamental Bagus, Undervalue dan Di Bawah Rp 1000/ lembar

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Follow Instagram InveStory ID untuk hiburan bursa saham

D. Jenis Reksadana

Mengutip dari web Bareksa.com, ada 4 jenis reksadana yaitu :

  • Reksadana pasar uang
  • Reksadana pendapatan tetap
  • Reksadana campuran
  • Reksadana saham

Kita akan bedah satu per satu

1. Reksadana pasar uang

Reksadana pasar uang adalah jenis reksadana yang menginvestasikan seluruh uang investor dalam pasar uang dangan masa jatuh tempo kurang dari satu tahun.

Bentuk instrumen investasinya dapat berupa time deposit (deposito berjangka), certificate of deposit (sertifikat deposito), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) dan berbagai jenis instrumen investasi pasar uang lainnya.

Tujuannya untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal. Risikonya relatif paling rendah dibandingkan reksadana jenis lainnya.

Reksadana ini cocok untuk profil investor yang konservatif dengan time horizon kurang dari 1 tahun

2. Reksadana pendapatan tetap

Reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang dikelola dengan instrumen utama investasi di surat utang atau obligasi, di mana obligasi adalah sebuah instrumen yang memberikan bunga atau kupon secara tetap, maka tampaknya dari sinilah mengapa namanya menjadi sebuah pendapatan tetap.

Obligasi atau surat utang sebenarnya memang mirip dengan sebuah deposito pada bank, yang membedakan, sebelum jatuh tempo maka surat utang tersebut dapat kita jual sewaktu-waktu pada pasar sekunder obligasi sama seperti jual beli saham di bursa saham.

Reksadana ini cocok untuk profil investor yang konservatif dengan time horizon kurang dari 1-3 tahun

3. Reksadana campuran

Reksadana campuran adalah reksadana yang memiliki portofolio berisikan ekuitas (saham), surat utang (obligasi), dan pasar uang (deposito) dengan bobot masing-masing jenis aset tidak lebih dari 79 persen portofolionya.

• Apakah boleh jika 90 persen isinya obligasi? Tidak Boleh, karena ini akan menjadi reksadana pendapatan tetap.
• Apakah boleh jika 90 persen isinya saham? Tidak Boleh, karena ini akan menjadi reksadana saham.

Tetapi…

• Apakah boleh jika 79 persen isinya obligasi? Boleh, karena batas minimal reksadana pendapatan tetap adalah 80 persen isinya efek surat utang (obligasi).
• Apakah boleh jika 79 persen isinya saham? Boleh, karena batas minimal reksadanasaham adalah 80 persen isinya efek ekuitas (saham).

Dengan melakukan investasi reksadana campuran, artinya risiko investasi kita tersebar karena adanya diversifikasi ke berbagai instrumen aset. Saat satu porsi instrumen menghasilkan kerugian, porsi lain bisa saja memberikan keuntungan yang besar.

Reksadana ini cocok untuk profil investor yang moderat dengan time horizon kurang dari 3-5 tahun

4. Reksadana saham

Reksadana saham adalah jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat ekuitas atau saham. Karena mayoritas portofolionya ada di efek saham, maka sifat dan pergerakan reksadana ini mirip dengan sifat dan pergerakan saham.

Reksadana ini cocok untuk profil investor yang agresif dengan time horizon lebih dari 5 tahun

E. Kategori Reksadana

Baca  Part 1 : Mengenal LEBIH DEKAT Dengan REKSADANA

Reksadana ada 2 kategori yaitu reksadana konvensional dan reksadana syariah.

Reksadana syariah adalah reksadana yang hanya berinvestasi di efek keuangan sesuai dengan kaidah dan prinsip syariah, dan tentunya masih terikat dengan batasan investasi yang ditetapkan oleh OJK.

Setidaknya, ada lima poin perbedaan reksadana syariah dan konvensional yang saya ambil dari web Bareksa.Com

Sumber : https://storage.googleapis.com/palma/mandau/P6uaMcoGHEm4Xz6vilrU.png

F. Cara Memilih Reksadana Yang Terbaik

Ada banyak sekali reksadana yang dibuat oleh Manajer Investasi. Karena saking banyaknya membuat pemula seperti kita akan mengalami kebingungan.

Nah saya akan membantu kalian untuk memilih reksadana terbaik. Tutorial ini bisa digunakan untuk memilih keempat reksadana yang ada di atas ya.

Dalam memilih reksadana ini saya menggunakan Bareksa sebagai toolsnya (Terima kasih Bareksa) dan saya sebagai investor yang agresif dan memiliki time horizon di atas 5 tahun

1. Buka web Bareksa

2. Pilih reksadana yang tersedia di Bareksa (Karena di artikel ini saya menggunakan Bareksa sebagai tools untuk memilih dan membeli reksadana)

3. Pilihlah reksadana yang syariah atau konvensional

4. Dana kelolaan di atas Rp 500milyar.

https://www.bareksa.com/id/data/reksadana/daftar/?view=performance&trans=2&type=3&kategori=1&aum_value=500&date=02-09-2021

Dari screening di poin 1 sampai 4, saya menemukan 3 reksadana yang memenuhi kriteria.

Namun masih ada beberapa hal yang harus kita pelajari lanjutan sesuai dengan tabel di atas yaitu

1. NAV atau NAB dan AUM

NAV (Net Asset Value) atau bahasa Indonesianya NAB (Nilai Aktiva Bersih)

NAV Reksadana atau Net Asset Value reksadana adalah nilai yang menggambarkan total kekayaan bersih reksadana setiap harinya.

Apa maksudnya total kekayaan bersih? Total aktiva bersih adalah nilai pasar setiap jenis aset investasi (saham, obligasi, surat berharga, pasar uang, serta deposito) + dividen saham + kupon obligasi – biaya operasional reksadana (biaya MI, biaya Bank Kustodian, dan biaya lain-lain).

Menurut definisinya, AUM atau dana kelolaan pada reksadana mengacu pada total nilai dari investasi yang dikelola oleh manajer investasi. Biasanya, manajer investasi yang mengelola aset-aset ini mengambil keputusan investasi atas nama investor. AUM adalah indikator ukuran keberhasilan sebuah reksadana.

Istilah AUM juga biasa disebut dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) suatu produk reksadana. AUM juga bisa merujuk pada total dana yang dikelola oleh manajer investasi.

AUM atau NAB ini juga bisa disebut dengan Dana Kelolaan.

AUM nanti ada 2 ya AUM dari reksadana dan AUM dari Manajer Investasi.

Di bawah ini AUM dari reksadana Sucorinvest Sharia Equity Fund Rp 640.676.545.975,00

Apakah NAV atau NAB ini harga reksadana tersebut?

Berdasarkan penjelasan dari Bareksa, sebenarnya NAB itu bukan harga reksadana tetapi semacam AUM atau dana kelolaan. Yang menunjukkan harga reksadana asli adalah NAB/UP

UP atau Unit Penyertaan adalah satuan yang digunakan dalam investasi reksadana. Ketika investor membeli reksadana, dikatakan investor membeli Unit Penyertaan dari Manajer Investasi, ketika investor menjual reksadana, dikatakan investor menjual Unit Penyertaan kepada Manajer Investasi. Semakin besar Jumlah Unit Penyertaan, berarti semakin banyak pula investor yang berinvestasi pada suatu reksadana.

NAB/UP = Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan menyatakan harga suatu reksadana. Pada harga ini kegiatan transaksi reksadana dilakukan. Berbeda dengan transaksi saham dan obligasi, di mana investor sudah mengetahui berapa harga pada saat transaksi dilakukan, investor reksadana baru mengetahui harga reksadana pada keesokan harinya (untuk transaksi sebelum jam 12 siang per hari ini) atau bisa keesokan harinya lagi apabila transaksi dilakukan setelah jam 12 siang.

Baca  Mending Emas Antam Atau Emas Lantakan?

NAV Reksadana ini biasanya ditulis dalam satuan per unit penyertaan reksadana. Misalnya sebuah reksadana memiliki NAV seharga Rp 1000/Unit. Artinya ketika kita mau membeli 100 unit reksadana itu, maka kita harus keluar uang sebesar Rp 100,000 (100 x Rp 1000).

Dari 3 reksadana di atas maka kita ambil contoh Reksadana Sucorinvest Sharia Equity Fund memiliki NAV sebesar Rp 1.808,22/ unit.

Jika kita membeli dengan uang Rp 100rb maka kita akan mendapat 55 unit.

Bagi yang modalnya sedikit sebaiknya membeli reksadana yang harganya kecil biar mendapat unit yang banyak ya..

2. Persentase kenaikan/penurunan

Reksadana Sucorinvest Sharia Equity Fund memiliki persentase kenaikan dalam 5 tahun sebesar 73,88%.

 

Apa artinya itu?

Jadi angka persentase kenaikan itu berdasar data masa lalu dan BUKAN JAMINAN 5 tahun yang akan datang akan naik sebesar 73,88%. Bisa lebih bisa kurang.

Apa penyebab naik turunnya persentase itu?

Saya ambil contoh Reksadana Sucorinvest Sharia Equity Fund.

Reksadana ini merupakan reksadana saham yang artinya isinya minimal 80% adalah saham-saham yang ada di bursa. Dan pergerakan harganya ini ditentukan oleh pergerakan saham yang ada di Reksadana ini.

Kalian bisa cek isi portofolio saham dari Reksadana Sucorinvest Sharia Equity Fund ini disini

Sumber : https://www.bareksa.com/id/data/reksadana/482/sucorinvest-sharia-equity-fund

Bagian ini bisa menjadi pertimbangan tetapi bukan menjadi acuan utama ya….

3. Manajer Investasi

Manajer Investasi merupakan perusahaan yang membuat produk reksadana. Sebelum membeli produknya kalian wajib cek beberapa hal berikut

a. Manajer Investasi tercatat di OJK (Kalian bisa cek disini Manajer Investasi di Indonesia)

b. Telusuri pula rekam jejaknya, baik itu di masa kini maupun di masa lalu. Jangan pilih manajer investasi dengan rekam jejak buruk.

Caranya cukup ketik di Google nama Manajer Investasinya. Jika ada berita buruk maka telusuri lebih lanjut sebelum membeli produk reksadananya.

c. Jumlah dana kelolaan manajer investasi

Besarnya jumlah dana kelolaan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih manajer investasi. Semakin besar dana yang dikelola, semakin banyak masyarakat yang percaya pada manajer investasi tersebut.

d. Lihat Pengalaman

Manajer investasi baru memang belum tentu buruk. Namun, alangkah lebih baik apabila Anda memilih manajer investasi yang sudah berpengalaman minimal lima tahun.

Semakin tua usia manajer investasi menunjukkan seberapa tangguh ia mengelola dana investasi di tengah ombang-ambing keuangan. Jika menemukan manajer investasi yang tetap kuat dan bisa selamat dari krisis, hal tersebut perlu menjadi pertimbangan lebih.

Dari contoh di atas saya akan membeli reksadana Sucorinvest Sharia Equity Fund yang dibuat oleh Sucorinvest Asset Management, PT.

Kalian bisa membaca detail tentang Sucorinvest Asset Management, PT di website milik Bareksa atau Website milih MI langsung disini

4. Transparansi Biaya

Faktor transparansi tentu tidak boleh diabaikan ketika memilih reksadana. Anda sebaiknya memilih reksadana yang transparan dalam hal biaya investasi.

Selain harus terbuka mengenai besaran biaya jasanya, sebaiknya Anda juga mencari reksadana yang membebankan biaya wajar.

Kalian bisa cek biaya-biaya yang ada di Prospektus atau Fund Factnya

DIbaca Prospektus dan Fund Factsheetnya atau kalian bisa lihat di dalam tabel tentang Biaya Transaksi.

Kesimpulan dari cara memilih reksadana terbaik yang sesuai kriteria kita adalah

  1. Pilih reksadana yang sesuai profil dan time horizon kita
  2. Perhatikan AUM reksadana
  3. Perhatikan Biaya yang ada
  4. Perhatikan Manajer Investasinya

Gimana?

Sudah paham ya…

Temukan Saham Fundamental Bagus, Undervalue dan Di Bawah Rp 1000/ lembar

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Follow Instagram InveStory ID untuk hiburan bursa saham

Sumber :

1. https://itstime.id/

2. https://www.bareksa.com/

3. https://www.pfimegalife.co.id/

4. https://faq.bibit.id

5. https://blog.bibit.id/

(Sudah dibaca 96 kali, Yang membaca hari ini 1 orang)

Yuk share pendapatmu di bawah ini