Dividen WMUU 2022 Rp 1.62/Lembar & Strategi Atasi Kenaikan Harga Pakan

Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan & Luar Biasa (RUPST&LB) yang digelar pada Rabu, 15 Juni 2022 di Jakarta, PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) bakal membagikan dividen senilai Rp 1.62/lembar.

Dividen ini setara dengan 10% dari laba tahun berjalan perseroan 2021 sebesar Rp 209,26 miliar atau kurang lebih Rp 20 miliar.

Sebesar Rp 5 miliar akan digunakan untuk dana cadangan perseroan dan sisanya belum ditentukan penggunaannya.

Berdasarkan harga pembukaan tanggal 16/06/2022 di Rp 138 maka div yieldnya sebesar 1.1%.

Untuk tahun 2022, WMUU membuat target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih sebesar 25%.

Padahal disisi lain, harga pakan sedang bergejolak akibat adanya perang Rusia dan Ukraina. Bahkan JPFA terkena dampak ini. Baca disini berita terkait JPFA

Chief Executive Officer WMUU Ali Mas’adi mengatakan, perseroan tidak terdampak signifikan atas adanya kenaikan sejumlah harga pakan. Lantaran WMUU memiliki strategi dengan pemain lainnya di industri poultry (unggas) yang lebih fokus pada sektor downstream atau pemotongan unggas.

Ali menyebutkan, hal tersebut dibuktikan dengan realisasi penjualan di tahun lalu yang mencapai Rp 3,09 triliun, yang disumbangkan paling besar dari segmen karkas yaitu mencapai 95% atau setara Rp 2,95 triliun.

Sementara sisanya disumbangkan dari segmen Day Old Chick (DOC) dengan komposisi 1,99%, Broiler Commercial 1,75%, Pakan 0,41% serta segmen Telur  0,18%.

Menurut Ali, harga ayam yang cenderung naik dan ada sejumlah negara seperti Malaysia dan Singapura yang mengalami krisis pasokan ayam potong, malah menjadi peluang bagi WMUU terutama di sektor downstream. Sebab, fasilitas yang dibangun oleh WMUU memang didesain untuk bisa dukung ekspor.

Baca  MEDC Q1 2022 : Harga Wajar MEDC 2022, Laba Bersih Tembus 1700% Dan Katalis Harga Minyak

Disamping itu, tidak dapat dihindari harga bahan pakan mengalami kenaikan seperti harga bahan baku unggas adalah jagung dan kedelai. Ali pun mengapresiasi pemerintah untuk ketersediaan produksi jagung dari domestik. Namun sayangnya kedelai masih dari impor.

Kendati demikian, WMUU telah melakukan riset untuk mengurangi ketergantungan kedelai, misalnya dulu dibutuhkan sebanyak 25% maka mulai perlahan dikurangi menjadi 15%.

Sumber :

1. https://industri.kontan.co.id/

2. https://investasi.kontan.co.id/

(Sudah dibaca 82 kali, Yang membaca hari ini 1 orang)

Yuk share pendapatmu di bawah ini