(UPDATE) 7 Cara Screening Saham Yang BISA Dilakukan Oleh Investor PEMULA

UPDATE

  • Tanggal 10 Oktober 2021 ada penambahan cara secreening saham menggunakan webiste Lembarsaham.com

Saat artikel ini ditulis tanggal 31 Agustus 2021, jumlah perusahaan yang sudah listing di BEI mencapai 700an perusahaan.

Ada perusahaan berkinerja istimewa

Ada perusahaan berkinerja bagus

Ada perusahaan berkinerja biasa aja

Ada perusahaan berkinerja sampah.

Kita sebagai investor yang menggunakan pendekatan value investing jelas harus memilih mana perusahaan yang berkinerja bagus dan masih undervalue.

Kalian bisa memilih salah satu 6 cara screening yang ada.

7. Menggunakan website Lembar Saham

Ini kok no 7 tiba-tiba diatas ya?

Karena no 7 ini updatean saat saya menemukan cara lain untuk screening saham.

Suatu saat saya sedang mencari detail saham yang akan saya kulik lebih lanjut, dan saat googling saya menemukan detail nama saham tersebut di web LembarSaham.Com

Setelah saya telusuri lebih lanjut ternyata web lembarsaham ini tidak hanya menyajikan detail jumah lembar saham dari masing-masing emiten tetapi ada yang lebih powerful yaitu pengkategorian saham berdasarkan sektor-subsektor

Dengan menggunakan web Lembar Saham ini kalian akan mudah menemukan kompetitor dari emiten yang akan kita kulik lebih lanjut.

Kalian bisa langsung klik disini Lembar Saham

Saya iseng akan mencari sektor Industri Dasar dan Kimia subsektor Pulp & Kertas dan menemukan 9 emiten.

Kemudian saya langsung sort lagi menggunakan fitur di Lembar Saham menggunakan kriteria sebagai berikut

  • Kapitalisasi
  • Book Value
  • GPM dan NPM
  • ROE

Dan berikut hasilnya

Jika menggunakan data di atas maka market cap terbesar adalah INKP dengan BV yang terbesar juga.

Namun ROE terbesar justru di emiten ALDO.

Kenapa saya memasukkan kriteria GPM dan NPM? Tunggu artikelnya ya…

Kalian bisa ulik lebih lanjut dengan menggunakan data di atas.

Saya sendiri lebih senang memilih market cap yang masih kecil dengan Book Value yang besar.

1. Menggunakan web IDX

Dulu di tahun 2018an saya menggunakan web IDX dan melihat 1 per 1 perusahaan tersebut dan mengecek EPS-nya menggunakan aplikasi RTI.

Kalian bisa melihat link daftar seluruh saham yang sudah listing disini.

Bayangkan ada 700 saham yang saya cek EPS-nya.

Namun seiring bertambahnya ilmu, konsep seperti jelas tidak efisien.

Akhirnya beralih menggunakan konsep emiten per sektor menggunakan web IDNfinancials.

2. Menggunakan Web IDNFinancials

Setelah ilmu yang saya punya sedikit bertambah, saya mulai memilah saham berdasarkan sektornya.

Di web IDNFinancials saya memfilter menggunakan 2 komponen yaitu

  • menggunakan sektor
  • menggunakan harga. Jadi jika saham tersebut harganya di bawah Rp 100 maka tidak akan saya cek EPS-nya

Cara mencarinya begini

a. Buka web https://www.idnfinancials.com/

b. Pilih Companies kemudian pilih All Companies dan pilih sektor yang diinginkan

Ada 9 sektor utama dan 56 sub sektor yang bisa dipilih.

Catatan Terkait Sektor Perusahaan/ Emiten:

Mengetahui suatu saham masuk ke sektor apa itu sebenarnya tidak terlalu penting, yang LEBIH PENTING dalam memahami sektor ini adalah 3 hal di bawah ini

  • Saat akan melakukan perbandingan 2 saham

Perhatikan beberapa pernyataan berikut

“Saham Bank BRI dibanding Unilever bagus mana ya?”

“Mending beli saham tambang batubara atau saham Telkom ya?”

“Kenapa DER di sektor finance besar-besar, dan apakah berarti tidak layak inves?

Jika kita akan membandingkan 2 saham maka kita WAJIB membandingkan saham yang berada dalam 1 sektor. Semisal saham UNVR selayaknya dibandingkan dengan saham MYOR. Saham BBRI akan dibandingkan dengan saham BBCA.

Mengapa harus membandingkan saham dalam 1 sektor? Karena rasio yang digunakan antar sektor berbeda.

Seperti contohnya DER. DER sektor finance jelas besar karena mereka memang menggunakan dana hutang sebagai modal. Contoh DER Bank BRI akan sangat besar karena yang digunakan oleh BRI sebagai modal kerja adalah dana yang dihimpun dari para penabung atau nasabah.

  • Saat akan membeli saham dengan kondisi makro sebagai salah satu indikator

Saat membeli saham memang sebaiknya kita sedikit memperhatikan kondisi makro yang ada dengan fokus di sektornya.

Membeli saham dengan memahami kondisi makro alias sektor nantinya berhubungan erat dengan timing.

Artinya masuk di momen yang tepat.

Momen yang tepat itu bukan harganya berapa atau pas turun berapa atau support berapa tetapi berhubungan dengan momentum. Baca contoh dibawah ini biar paham tentang timing ini.

Contoh sebagai berikut :

Tahun 2020 dunia menghadapi pandemi Virus Corona. Semua negara pontang panting mengatasi dan berimbas kepada laju ekonomi global.

Salah satu sektor yang terkena imbas yang signifikan secara positif adalah sektor kesehatan dan yang terkena imbas secara negatif adalah pariwisata, industri hiburan dan ritel.

Sektor kesehatan mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan yang ditopang oleh kondisi seperti jual beli obat-obatan, penjualan masker, tes swab dll.

Dari isu ini maka perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan seperti KLBF, SIDO, TSPC, PRDA akan mengalami kenaikan pendapatan.

Dan jika kalian membeli saham di sektor konstruksi akan relatif stagnan karena di era sekarang sektor konstruksi masih terpuruk.

Belilah saham saat sektornya sedang terpuruk ya…Jangan sebaliknya. Contoh saat harga saham batubara sedang terpuruk maka kalian bisa membeli saham di sektor tambang.

  • Saat akan membuat portofolio sebaiknya dalam 1 porto hanya ada 1 sektor

Saat kita akan membuat portofolio saham sebaiknya kalian memahami konsep bahwa belilah 1 saham yang terbaik dalam sektor/subsektor tersebut.

Jangan sampai kalian membeli atau mengkoleksi beberapa saham dalam 1 sektor seperti membeli saham BBRI, BBCA, BMRI atau membeli saham PTBA, ITMG, ADRO, BUMI.

Karena apabila sektor tersebut ambruk maka portofolio kalian juga pasti akan ambyar. Beda jika kita sebar dengan memilih sektor finance, sektor konstruksi dan sektor consumer.

c. Urutkan berdasar Price paling besar

d. Langsung buka RTI dan ketik nama perusahaannya dari atas (Misal TCPI kemudian IBST dan seterusnya sampe selesai).

3. Menggunakan INDEKS

Ada banyak sekali indeks yang ada di Indonesia yang dibuat oleh BEI maupun oleh organisasi swasta seperti Kompas.

Kalian juga bisa mengecek indeks-indeks yang dibuat oleh BEI disini.

Ada sekitar 25 indeks termasuk indeks yang dibuat oleh Kompas dan Bisnis.

Kalo kalian bingung mau menggunakan indeks yang mana? Saran saya bisa gunakan indeks di bawah ini

  • LQ45

LQ45 adalah Indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

  • IDX High Dividend 20

IDX High Dividend 20 adalah Indeks yang mengukur kinerja harga dari 20 saham yang membagikan dividen tunai selama 3 tahun terakhir dan memiliki dividend yield yang tinggi.

  • Jakarta Islamic Index (JII)

Jakarta Islamic Index (JII) adalah Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi.

Kalian bisa cari lagi nama indeks beserta pengertiannya disini

Tapi harus diingat ya bahwa saham di atas bukan berarti saham paling bagus menurut kita karena bisa saja mereka masih undervalue dan bisa saja sudah overvalue.

Eh kok enggak ada saham bluechip?

Iya saham bluechip itu cuma berdasar marketcap sehingga kadang ada perusahaan enggak bagus tapi marketcapnya tinggi.

4. Menggunakan Forum-forum

Nah poin keempat ini yang saya gunakan sampai artikel ini ditulis.

Saya ikut forum di Stockbit, Facebook hingga Telegram.

Tentu saja saya hanya follow orang-orang yang mempunyai aliran yang sama yaitu value inevsting untuk mencari saham undervalue walopun saya juga memfollow beberapa orang juga yang mempunyai investing secara umum seperti growth investing maupun dividen investing

Langkah-langkahnya

1. Biasanya saya akan membaca stream di Stockbit untuk mencari saham apa yang sedang dibahas.

Kadang melalui orang yang difollow maupun dari All

2. Selain melalui Stockbit, saya juga menggunakan Telegram maupun Facebook.

Salah satu grup Telegram yang bisa kalian ikuti adalah Value Stock.

3. Jika sudah menemukan langsung saya buka RTI dan langsung menggunakan 5 Jurus Sederhana disini. Kalian bisa baca artikel lengkapnya di bawah ini

5 JURUS SEDERHANA Cara Memilih Saham Menggunakan Analisa Value Investing + Contoh Sahamnya (DIJAMIN BISA)

5. Menggunakan Indopremier

Cara screening saham yang kelima ini menggunakan web Indopremier.

Kalian bisa langsung menggunakan web Indopremier disini

Kalian bisa isi sesuka hati untuk menemukan saham yang sesuai keinginan sebelum diteliti lebih lanjut menggunakan 5 Jurus Sederhana disini

6. Menggunakan Stockbit PRO

Kalo ini saya belum pernah menggunakan karena memang belum mendaftar sebagai member Pro.

Tapi melihat banyak teman-teman yang menggunakan sepertinya Stockbit PRO ini juga sangat bagus dan layak digunakan untuk screening saham.

Itulah 6 langkah yang pernah saya gunakan dalam screening saham.

Kalo sekarang relatif simpel, saya hanya menggunakan 2 cara screening yaitu :

a. Baca-baca di grup Telegram atau Stockbit. Jika sekiranya ada yang menarik langsung lanjut ke poin B

b. Screening berdasarkan rasio menggunakan panduan 5 Jurus Sederhana Mencari Saham Potensi Bagger

Yang pasti saya tidak menggunakan PBV dan PER sebagai sarana untuk screening saham. Kalian bisa membaca alasannya di link berikut

Karena 2 Hal ini, JANGAN Jadikan PER dan PBV Sebagai ACUAN Memilih Saham Ya

Kalo kamu cara screening sahamnya gimana? Share yuk di kolom komentar

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Follow Instagram InveStory ID untuk hiburan bursa saham

(Sudah dibaca 1,391 kali, Yang membaca hari ini 1 orang)

Yuk share pendapatmu di bawah ini