5 JURUS SEDERHANA Cara Memilih Saham Menggunakan Analisa Value Investing + Contoh Sahamnya (DIJAMIN BISA)

Sejak mulai adanya pandemi Covid 19, tiba-tiba banyak orang yang membahas tentang investasi.

Sebenarnya sih ada banyak yang tiba-tiba muncul sejak pandemi masuk ke Indonesia pada Bulan Maret 2020.

Mulai dari rame-rame membuat dalgona coffee, kemudian ternak cupang, meluncur ke tanaman sampe investasi seperti reksadana, saham maupun cryptocurrency.

Mungkin karena orang-orang banyak menghabiskan waktu di rumah atau work from home sehingga membuat waktunya relatif lebih santai dibanding kalo berangkat kerja. Situasi inilah yang menjadikan mereka mulai iseng-iseng mencari cara mencari uang dengan relatif mudah dan santai.

Di artikel ini saya hanya akan membahas secara spesifik tentang saham saja

DAFTAR ISI

I. PROBLEM INVESTOR PEMULA

II. SOLUSI PROBLEM INVESTOR PEMULA

  A. Pengertian value investing

  B. Konsep value investing ini

  C. Semua saham yang salah harga alias undervalue bisa masuk value investing?

  D. Kenapa ada saham fundamental bagus masih murah atau undervalue?

III. MEMILIH SAHAM MENGGUNAKAN VALUE INVESTING

  A. Memahami rasio-rasio yang ada melalui aplikasi RTI atau aplikasi lainnya

  B. Memahami Shareholders dan Membaca Laporan Tahunan

  C. Membaca berita terkait produk atau kegiatan perusahaan yang diincar

  D. Perhatikan sektor atau isu yang mempengaruhi kinerja perusahaan

  E. Berteman dengan waktu, Bersahabat dengan pikiran dan Bergandengan dengan emosi yang tenang

Ada berbagai macam alasan orang berbondong-bondong masuk ke bursa saham seperti untuk mencari uang, dana pendidikan anak, pensiun di hari tua atau bisa saja untuk membangun rumah dan ada juga hanya sekadar terobsesi dengan adrenalin naik turunnya saham

Berikut salah satu berita yang menunjukkan bahwa minat investasi benar-benar melonjak di era pandemi. Berita ini saya kutip dari web CNBC

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210629153854-17-256818/naik-56-jumlah-investor-pasar-modal-ri-mencapai-388-juta

Isi kutipan dari berita di atas

Sementara itu, sampai dengan April 2021, jumlah investor pasar modal mencapai 5.088.093 SID menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Jumlah tersebut meningkat 31,11% dari posisi akhir tahun 2020 yang mencapai 3.880.753 SID. Sedangkan, pada Maret 2021, investor pasar modal tercatat sebanyak 4,84 juta SID.

Lumayan kan.

Tapi ada tapinya ya…yuk baca poin I ini.

I. PROBLEM INVESTOR PEMULA

Tapi sayangnya ada kabar yang kurang menggembirakan juga terkait dari banyaknya investor baru ini.

Menurut Pak Lukas Setia Atmadja salah satu sesepuh dunia investor saham, 80 sampai 90% investor akan gagal.

Sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/sekitar-90-investor-saham-indonesia-gagal-simak-cara-ampuh-para-investor-ini

Kutipan dari berita di atas

Namun tahukah anda bahwa dari jumlah investor yang besar itu, 85% hingga 90% investor gagal. Hal itu disampaikan oleh akademisi keuangan dan investasi, Lukas Setia Atmaja dalam acara Capital Market Summit and Expo 2019 di Dyandra Convention Centre Surabaya, 27 April 2019 lalu.

Pak Lukas mengatakan kegagalan investor pemula terjadi lantaran para investor tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai dalam berinvestasi saham.

Wajar sih dan kebanyakan memang orang-orang masuk ke dunia saham hanya karena rekomendasi suatu grup tanpa mengetahui apa yang mereka beli atau minimal menanyakan ke pemilik grup mengapa membeli saham tersebut.

Website Ajaib menjelaskan secara lebih gamblang mengapa 90% investor gagal. Berikut beberapa alasannya

1. Minim pengetahuan yang memadai

2. Trading untuk balas dendam

3. Terlalu bergantung pada penjual rekomendasi jual-beli saham pilihan

4. Psikologis Investor; Kurangnya kesabaran saat berinvestasi di pasar saham

5. Psikologis Investor; Panik

6. Tidak memiliki tujuan dan plan yang jelas

Untuk pembahasan tentang problem di atas akan saya jabarkan di artikel lain ya biar artikel ini tidak melebar

II. SOLUSI PROBLEM INVESTOR PEMULA

Dari 6 problem di atas, saya akan memberikan 5 JURUS SEDERHANA cara mencari saham yang memiliki fundamental bagus dan masih undervalue. Itu artinya saya mencoba ingin membantu mengatasi problem yang pertama dan ketiga yaitu “Minim Pengetahuan yang Memadai dan Terlalu bergantung pada penjual rekomendasi jual-beli saham pilihan”

Lho kenapa poin ketiga juga bisa diselesaikan?

Karena jika ilmu kurang memadai atau masih sedikit maka kemungkinan besar akan ikut apa kata orang alias rekomendasi grup-grup baik grup gratisan maupun grup berbayar alias premium. Kapan-kapan saya juga akan bahas juga tentang fenomena grup saham ini.

Sebenarnya solusi konkretnya ada banyak namun disini saya akan menggunakan value investing karena saya sudah menggunakan dan sampai sejauh ini terbukti lumayan berhasil.

A. Apa pengertian value investing?

Mengutip dari web MNC Sekuritas, Value investing merupakan metode untuk membeli saham di bawah harga wajarnya atau sering disebut dengan saham yang undervalue atau di bawah harga intrinsik, untuk kemudian dijual di harga wajarnya.

Value investing ini cocok untuk untuk investor yang punya tingkat kesabaran tinggi karena keuntungan maksimal justru diperoleh saat saham dijual beberapa tahun kemudian.

Konsep value investing diperkenalkan oleh Benjamin Graham melalui buku yang menjadi “kitab suci”-nya para value investor yaitu The Intelligent investor.

Banyak tokoh yang sukses menggunakan konsep Value investing seperti Warren Buffet untuk investor dunia, Pak Lo Kheng Hong untuk investor Indonesia.

B. Bagaimana konsep dari value investing ini?

Value investor akan memilih saham yang secara fundamental bagus dan valuasi masih dihargai murah dengan cara mengecek Laporan Keuangan kemudian menganalisa harga “seharusnya” dan membandingkan harga saat ini.

Jika harga seharusnya lebih mahal dibanding harga saat ini maka disebut undervalue, tetapi jika harga seharusnya lebih murah dibanding harga saat ini maka disebut overvalue.

C. Apakah semua saham yang salah harga alias undervalue bisa masuk value investing?

TIDAK, karena tidak semua saham salah harga memiliki kualitas yang bagus. Prinsip value investing itu tetap MEMILIH SAHAM FUNDAMENTAL BAGUS namun DIHARGAI MURAH oleh market.

Murah disini bukan nominal harga sahamnya ya, tetapi soal nilai valuasi sahamnya.

Karena ada saham yang harganya sampe Rp 32.000 tetapi masih dihitung undervalue alias murah contohnya saham GGRM

Jika dihitung menggunakan EPS Q2 2021 yang disetahunkan Rp 2402 dan Book Value 31617 maka harga wajarnya Rp 41.000

Tapi ada juga yang harga sahamnya hanya Rp 800 tetapi overvalue alias sudah sangat mahal contohnya saham SIDO.

Jika dihitung menggunakan EPS Q2 2021 yang disetahunkan Rp 33 dan Book Value 105 maka harga wajarnya Rp 279.

D. Kenapa ada saham fundamental bagus masih murah atau undervalue?

Ini pertanyaan sulit tetapi sejauh yang saya perhatikan ada beberapa faktor

  • Memang belum diketahui market (mutiara terpendam)
  • Banyak isu-isu yang menyerang perusahaan (seperti industrinya sunset, cadangan batubaranya sedikit)
  • Bukan saham trending (Saat artikel ini ditulis, saham yang sedang tren saham bank digital dan saham farmasi)

Sampai disini sudah jelas?

Kalo belum jangan khawatir kalian bisa terus membaca artikel ini atau langsung konsultasi dengan saya. Cukup join di Telegram Channel InveStory ID di bawah ini ya

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Follow Instagram InveStory ID untuk hiburan bursa saham

 

III. MEMILIH SAHAM MENGGUNAKAN VALUE INVESTING

Saya akan membagikan beberapa rasio sederhana untuk menemukan saham fundamental bagus dan undervalue (Sejauh ini lumayan sukses ya buat saya dan semoga sukses juga buat teman-teman)

A. Memahami rasio-rasio yang ada melalui aplikasi RTI atau aplikasi lainnya

B. Memahami Shareholders dan Membaca Laporan Tahunan

C. Membaca berita terkait produk atau kegiatan perusahaan yang diincar

D. Perhatikan sektor atau isu yang mempengaruhi kinerja perusahaan

E. Berteman dengan waktu, Bersahabat dengan pikiran dan Bergandengan dengan emosi yang tenang

Saya akan membahas pelan-pelan kelima hal di atas ya.

A. Memahami rasio-rasio yang ada melalui aplikasi RTI atau aplikasi lainnya

Banyak pemula yang enggan belajar tentang memahami fundamental perusahaan karena merasa sudah njlimet duluan. Bahkan ada yang bilang bahwa saya tidak mahir akuntansi, saya bingung melihat angka-angka apalagi rasio-rasio yang ada di aplikasi RTI.

Saya akan bantu memudahkan semua hal di atas, teman-teman tinggal ikuti pelan-pelan dan praktekkan.

Apakah artinya sudah sukses menjadi value investor? Belum lah. Teknik ini hanya akan menjadikan teman-teman memilih saham yang bagus bukan saham sampah.

Tools yang saya gunakan untuk mempelajari rasio-rasio ada 3 yaitu aplikasi RTI (download disini), aplikasi HQ Saham IDX (download disini) dan website milik Indopremier (klik disini)

1. Perhatikan EPS 

Apa itu Earning per Share?

Earning Per Share (EPS) adalah laba perusahaan yang dibagi per lembar saham.

Semakin meningkat nilai EPS dari tahun ke tahun, maka perusahaan tersebut semakin baik karena laba perusahaan meningkat, serta perusahaan dapat dikatakan bertumbuh.

Apabila EPS turun maka sebenarnya kinerja perusahaan menurun.

Hindari perusahaan yang EPS-nya ada minusnya.

Untuk rumus EPS = laba bersih/jumlah saham yang beredar

Berikut saya ambilkan contoh saham yang EPS-nya naik yaitu INDF

EPSnya stabil (ada naik turun sedikit) yaitu saham ASII (turun di 2020 karena pandemi)

dan EPS-nya turun yaitu PTBA (karena harga komoditas dan pandemi) (Baca poin D tentang isu yang mempengaruhi kinerja perusahaan)

Pesan

Ambillah perusahaan yang EPS-nya naik terus atau minimal stabil (naik turun tapi tipis)

2. Perhatikan Book value per share

Mengutip dari web https://rivankurniawan.com/, pengertian book value/ nilai buku dalam konteks analisis fundamental saham adalah selisih antara jumlah aset perusahaan dikurangi dengan berbagai liabilitas/utangnya.

Nilai buku dalam konteks saham, juga dikenal dengan sebutan ekuitas, dimana ekuitas dalam pengertian akuntansi juga berarti kekayaan bersih sebuah perusahaan atau sisa kepemilikan atas aset perusahaan yang telah dikurangi seluruh kewajibannya.

Book value INDF bisa dilihat disini

Namun sayangnya di aplikasi RTI tidak bisa dilihat progress dari pertumbuhan Book Value.

Kita membutuhkan aplikasi HQ Saham IDX dengan cara masuk ke bagian

  • Fundamental Data
  • Annualized Data
  • Book Value per Share

Grafik BVPS ini penting agar kita bisa melihat book valuenya memang tumbuh bukan hanya sekadar stabil.

3. Menghitung harga wajarnya menggunakan metode Graham Number dan berikan Margin of Safety-nya

Menghitung harga wajar suatu emiten SANGAT PENTING karena dari harga wajar inilah kita bisa mengetahui apakah emiten tersebut undervalue, fair price atau over value.

Ada banyak sekali cara untuk menghitung harga wajar saham, namun saya nyaman menggunakan metode Graham Number.

Begini rumus Graham Number

Harga Wajar = √22.5 x EPS x BVPS

Ket : dikali semua baru diakar

Penjelasannya sebagai berikut

Konstanta 22.5 merupakan nilai tetap yang merupakan sebuah asumsi yang berdasarkan pengalaman puluhan tahun Ben Graham di pasar modal bahwa PER sebuah saham yang baik tidak boleh melebihi dari 15, dan PBV sebuah saham yang baik tidak boleh melebihi 1.5, dan konstanta 22.5 ini didapat dari 15 x 1.5

Kalian bisa menggunakan rumus Excel di bawah ini untuk menghitung harga wajar suatu saham.

Cukup dengan memasukkan EPS dan Book Value maka harga wajar langsung ketemu.

Yuk masuk kembali ke saham INDF dengan EPS Q1 2021 sebesar Rp 788 dan Book Valuenya Rp 5072 dan ketemu harga wajar INDF adalah Rp 9483.

Sekarang apa itu Margin of Safety?

Mengutip dari web https://doseninvestor.com/, Margin of  Safety (MOS) adalah selisih harga saham saat ini dengan nilai intrinsiknya/ harga wajarnya.

Jadi penjelasannya seperti ini, metode valuasi seperti Graham Number atau metode lain bisa saja salah. Dari sini kita mengambil ancang-ancang untuk memperkirakan jika terjadi kesalahan.

Ambil contoh lagi adalah harga wajar INDF di harga Rp 9483 dan harga saat ini INDF sebesar Rp 6075. Artinya ada Margin of Safety sebesar Rp 9483-Rp 6075 = Rp 3408 atau 36%.

Dan jika kita membeli di harga Rp 6075 dan menyimpan agar INDF sampai ke harga Rp 9483 maka kita akan ada potensi capital gain 56%.

Darimana angka 56% itu?

PCG = (HSE/HS)x100%

PCG : Potensi Capital Gain

HSE : Harga selisih yang didapat dari Harga wajar dikurangi harga sekarang

HS : Harga sekarang

PCG = 3408/6075×100

PCG = 56,09%

Atau kalian juga bisa langsung menggunakan Kalkulator Penghitung MOS di bawah ini.

Kalian cukup menuliskan harga wajarnnya dan harga saat ini maka otomatis akan keluar Potensi Capital Gain yang diinginkan

Besaran MOS bagi tiap orang berbeda-beda. Ada yang cukup 30%, ada yang 50%.

MOS ini juga nantinya akan menjadi poin titik beli dan titik jual suatu saham misalnya harga wajar saham ABCD Rp 1000 dan saat ini harganya Rp 500 maka kita bisa membeli saham ABCD di harga berapapun selama belum nyentuh di atas Rp 500.

Kapan jualnya? Setelah harga saham ABCD mencapai harga Rp 1000.

Sudah paham ya sampai poin no 3 ini kan?

Kalo belum, jangan ragu-ragu untuk berkonsultasi dengan saya dengan join Telegram InveStory Channel di bawah ini

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Follow Instagram InveStory ID untuk hiburan bursa saham

 

4. Perhatikan rasio hutangnya yaitu (DER, CR, QR dan CRR)

Hutang merupakan salah satu modal yang digunakan oleh suatu emiten untuk operasional perusahaan. Namun hutang ini juga menjadi bermata dua jika ternyata emiten tidak bisa menggunakannya dengan baik.

Contoh emiten yang ternyata gagal bayar hutang adalah TELE

Sumber : https://tirto.id/tiphone-gagal-bayar-utang-rp32-triliun-saham-kembali-disuspensi-fQT9

Bahaya kan?

Tapi ada cara untuk mengetahui apakah suatu emiten atau perusahaan bisa membayar hutangnya atau tidak yaitu menggunakan beberapa rasio yaitu DER, CR, QR dan CRR.

Apa itu Debt Equity Ratio/ DER?

DER atau Debt Equity Ratio adalah suatu rasio keuangan yang menunjukkan persentase antara Utang dengan Ekuitas yang dimiliki oleh pemegang saham.

Rasio aman dari DER ini maksimal 100% atau nilai 1.

Apa itu Cash ratio/ CR?

Cash ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya uang kas yang tersedia untuk melunasi kewajiban jangka pendek yang ditunjukan dari tersedianya dana kas atau setara kas, contohnya rekening giro.

Makin besar CR makin baik

Apa itu Quick Ratio/ QR?

Quick ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar atau tanpa memperhitungkan persediaan karena persediaan akan membutuhkan waktu yang lama untuk diuangkan dibanding dengan aset lainnya.

Makin besar QR makin baik

Apa itu Current Ratio/ CRR?

Current ratio merupakan cara penghitungan untuk mengetahui tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva perusahaan yang likuid pada saat ini atau aktiva lancar (current asset).

Makin besar CRR makin baik

Terus dimanakah bisa melihat semua rasio di atas? Cukup menggunakan aplikasi RTI dan masuk di bagian Key Statistic dan scroll sampai bawah di bagian Liquidity.

Semua rasio dari SIDO ini memenuhi batas aman bahkan sangat aman.

5. Perhatikan progress GPM, NPM dan ROE

Pembahasan no 5 tentang kinerja perusahaan dalam menjual produknya.

Saya jujur senang memperhatikan dari rasio GPM, NPM dan ROE karena urusannya adalah bagaimana perusahaan mendapatkan uang.

Menurut Mamduh dan Halim (2009), GPM atau Gross Profit Margin adalah kemampuan yang dimiliki oleh suatu perusahaan untuk dapat menghasilkan produk secara efisien, serta kemampuan untuk menjual produk yang dihasilkannya.

Perusahaan yang memiliki margin lebih besar berarti menghasilkan laba lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki margin kecil jika diukur dalam nilai penjualan yang sama.

Makin besar GPM yang ada maka bisa dikategorikan emiten tersebut menguasai market di bidang tertentu.

Net Profit Margin (NPM) adalah rasio untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari penjualannya.

NPM yang nilainya tinggi, maka dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut telah menetapkan harga produknya dengan benar dan biaya yang digunakan terkontrol dengan baik.

Return on Equity (ROE) adalah indikator yang mengukur seberapa baik perusahaan dalam memanfaatkan modal sendiri (ekuitas/equity) untuk menghasilkan laba (profit).

ROE berfungsi sebagai rasio profitabilitas yang memberi pandangan ke investor mengenai seberapa efektif dan efisien perusahaan menggunakan modal dari para investor (ekuitas).

Ketiga rasio di atas yaitu GPM, NPM dan ROE sudah tersaji di RTI.

Kalian juga bisa melihat progres per tahun dari GPM, NPM dan ROE di bagian Financials kemudian Profitability

6. Perhatikan Market Cap, Cash, Aset, Hutang Jangka Pendek dan Jangka Panjang dan Revenue

Langkah berikutnya adalah memperhatikan Market Cap, Cash dan Revenue. Di poin ini sebenarnya kalian bebas mau memperhatikan apa saja karena memang data yang ada di website Indopremier ini lumayan lengkap.

Kalian cek aja di web Indopremier disini

Yang pertama saya lihat adalah market Cap.

Apa itu Market Cap?

Market Cap atau kapitalisasi pasar adalah harga yang harus dibayarkan untuk mengakuisisi seluruh perusahaan (aset, uang cash, hutang).

Cara menghitungnya adalah harga saat ini dikalikan dengan jumlah seluruh saham yang beredar.

Dengan melihat market cap ini secara umum kita bisa melihat berapa yang kita bayar dan apa yang kita dapat. Nanti di akhir akan saya contohkan cara membacanya secara sederhana

Cash adalah instrumen berupa uang kas, bank, deposito on call, investasi jangka pendek lainnya yang bisa sewaktu-waktu digunakan.

Aset perusahaan adalah semua sumber ekonomi atau kekayaan yang dimiliki oleh entitas yang diharapkan mampu memberi manfaat usaha di masa mendatang. Aset bukan hanya dalam bentuk uang tunai, tanah, bangunan, peralatan, ataupun perlengkapan. Namun aset juga dapat berupa sumber daya manusia seperti karyawan dan pelanggan.

Hutang jangka pendek dan jangka panjang (dalam tabel ditulis ST borrowing : short term dan LT : long term)

Dengan melihat hutang kita bisa tau secara sederhana apakah perusahaan bisa membayar hutang-hutangnya.

Revenue adalah pendapatan yang mampu dihasilkan oleh perusahaan dengan adanya kegiatan atau aktivitas utama perusahaan tersebut.

Contoh sesuai grafik di atas (perhatikan data 6M2021 : semester 1 tahun 2021).

Ada perusahaan memiliki market cap Rp 740.1 milyar.

Dengan harga Rp 740.1 milyar kita akan mendapat perusahaan yang memiliki uang cash sebesar Rp 137milyar.

Perusahaan tersebut memiliki aset senilai Rp 2,5Trilyun, memiliki hutang Rp 940milyar dan menghasilkan pendapatan dari bisnisnya sebesar Rp 1.2T

Sekarang bayangkan ya

Ada peternakan AYAM dijual dengan harga Rp 70juta. Peternakan itu memiliki uang cash sebesar Rp 13juta dan memiliki aset sebesar Rp 250juta. Hutangnya hanya Rp 90juta.

Dan setiap tahun bisa memiliki pendapatan sebesar Rp 120juta.

Kira-kira mau beli tidak?

Ini ada perusahaan yang harganya memang murah hanya Rp 800milyar namun punya aset Rp 2,3T dan memiliki uang cash Rp 134 milyar.

Sayangnya perusahaan ini memiliki hutang Rp 4.5T.

Kira-kira perusahaan tersebut bisa membayar hutangnya? Sepertinya berat.

7. Membagikan dividen

Bagi sebagian investor dividen merupakan barang wajib yang harus dimiliki sebelum kita akhirnya membeli sahamnya. Menurut mereka dividen inilah bukti nyata perusahaan membukukan laba nyata bukan hanya laba di atas laporan kertas.

Kalo saya sendiri sih memang dividen hanya bonus alias bukan menjadi parameter utama dalam membeli saham. Ada dividen artinya bonus saja.

Kalian bisa membaca dividen suatu perusahaan menggunakan web Stockbit disini

Caranya cukup mudah

  • Masuk ke Stockbit kemudian pilih nama sahamnya
  • Masuk ke menu Corporate Action dan pilih yang dividen saja.

Berikut ini salah satu contoh dividen yang dibagikan rutin oleh emiten EKAD

Kalian juga bisa memprediksi besaran dividen yang akan dibagikan oleh suatu emiten dengan melihat EPS dan Dividen Payout Ratio rutinnya.

Rumusnya adalah

Perkiraan Dividen = EPS x DPR

Contoh di bawah ini ada saham EKAD

Contoh Tahun 2020 ya dan anggap aja kita tidak tau kalo dividennya Rp 45.

EPS : 134

DPR : 33%

Perkiraan dividen = EPS/DPR

PD : (134×33)/100

PD : 44,22

Dividen aslinya Rp 45. Relatif dekat kan.

B. Memahami Shareholders dan Membaca Laporan Tahunan

  • Memahami Shareholders

Shareholders disini diartikan sebagai pengendali dari suatu perusahaan ya bukan Direktur atau jajaran manajemen perusahaan.

Memang banyak dari perusahaan yang menjadi pengendali perusahaan juga merupakan manajemen perusahaan seperti SIDO, ULTJ atau ACES.

Para founder atau pengendali masih aktif menjadi manajemen.

Walaupun begitu kita juga harus aktif mencari tau tentang sepak terjang jajaran manajemen baik yang asli founder atau profesional. Apakah beritanya positif atau justru malah negatif.

Contoh berita negatif dari manajemen seperti maskapai “nama burung” yang menjadi tersangka kasus penyelundupan motor besar.

Namun ada juga manajemen yang beritanya positif.

Selain tentang berita, kepemilikan shareholders juga perlu pertimbangan.

Logikanya begini, kalo pengendali merasa bisnis atau perusahaannya bagus maka mereka akan memiliki sahamnya dengan jumlah yang banyak. Terbalik dengan situasi dimana jika pengendalinya sedikit ada kemungkinan mereka sudah tidak percaya dengan bisnisnya.

Jumlah pengendali ini bisa dilihat di aplikasi RTI kemudian profiles.

Makin banyak Pengendali + Makin sedikit masyarakat = BAGUS

Makin banyak Masyarakat + Makin sedikit Pengendali = HATI-HATI

Sekadar info juga untuk kalian yang ingin melihat perusahaan secara GCG bisa memantau event Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) yang membuat event tentang implementasi praktik tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).

  • Membaca Laporan Tahunan

Setiap emiten WAJIB mengeluarkan Laporan Keuangan secara kuartal dan membuat Laporan Tahunan.

Idealnya, investor membaca Laporan Keuangan setiap kuartal, namun saya lebih senang membaca Laporan Tahunan karena

  • Mengetahui bisnis perusahaan
  • Mengetahui target tahun sebelumnya dan realisasinya
  • Mengetahui project atau informasi terbaru dari emiten seperti rencana pembangunan pabrik atau peluncuran produk baru
  • Mengetahui laporan keuangan tahunannya juga
  • Keluarnya cuma 1x

Berikut ini contoh beberapa informasi penting yang ada di Lap Tahunan 2020 dari emiten EKAD. (Download disini)

EKAD mengatakan bahwa penjualan bersih untuk tahun 2020 mengalami penurunan tetapi justru laba bersihnya meningkat. Hal ini sebenarnya bertolak belakang. Namun di Lap Tahunan dijelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi

Selain itu EKAD juga mengatakan tentang produk barunya dengan segmen yang berbeda dan berpotensi menambah pendapatan di tahun-tahun ke depan

Artinya dengan membaca dari Lap Tahunan ini kita bisa menjadi tau tentang arah perkembangan perusahaan.

C. Membaca berita terkait produk atau kegiatan perusahaan yang diincar

Di poin C membahas berita dan produk dari emiten yang sedang kita incar.

Caranya gampang saja Buka google kemudian masuk ke news terus tulis nama emiten

Contohnya saat saya mencari berita tentang saham HRTA

Dari metode ini kita juga bisa melihat perkembangan emiten seperti HRTA ini yang ternyata mempunyai bisnis baru yaitu semacam pegadaian emas.

D. Perhatikan sektor atau isu yang mempengaruhi kinerja perusahaan

Menjadi investor memang tidak harus memperhatikan setiap sentimen yang ada seperti isu corporate action (RUPS, dividen, Stock Split atau Right Issue), isu-isu gorengan yang hanya dihembuskan untuk membuat fluktuasi harga pasar, tetapi memahami kondisi sektor dan isu yang mempengaruhi kinerja perusahaan sangatlah penting.

Poin D ini berhubungan erat dengan timing.

Artinya masuk di momen yang tepat.

Momen yang tepat itu bukan harganya berapa atau pas turun berapa atau support berapa tetapi berhubungan dengan momentum. Baca contoh dibawah ini biar paham tentang timing ini.

Contoh sebagai berikut :

Tahun 2020 dunia menghadapi pandemi Virus Corona. Semua negara pontang panting mengatasi dan berimbas kepada laju ekonomi global.

Salah satu sektor yang terkena imbas yang signifikan secara positif adalah sektor kesehatan dan yang terkena imbas secara negatif adalah pariwisata, industri hiburan dan ritel.

Sektor kesehatan mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan yang ditopang oleh kondisi seperti jual beli obat-obatan, penjualan masker, tes swab dll.

Dari isu ini maka perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan seperti KLBF, SIDO, TSPC, PRDA akan mengalami kenaikan pendapatan.

Sumber : https://market.bisnis.com/read/20210404/192/1376411/emiten-farmasi-cuan-banget-waktu-pandemi-gimana-nasibnya-tahun-ini-ya

Tetapi bagi sektor pariwisata, hiburan, konstruksi, properti dan ritel mengalami imbas yang sangat dalam karena adanya lockdown, pembatasan aktivitas dsb contohnya perusahaan EAST, RALS, PWON yang turun akibat lockdown.

Sumber : https://newssetup.kontan.co.id/news/sektor-ritel-menjadi-segmen-usaha-yang-terperosok-cukup-dalam-akibat-pandemi?page=all

Contoh lain adalah emiten yang mempunyai bisnis di sektor komoditas seperti batubara, emas atau kelapa sawit.

Biasanya jika komoditas harganya sedang turun maka pendapatan emiten juga akan turun dan saat harga komoditas naik maka pendapatan emiten juga naik.

Sumber : https://www.tribunnews.com/bisnis/2021/06/08/kenaikan-harga-batu-bara-berdampak-positif-ke-perusahaan-penyedia-alat-berat

Perusahaan rokok sangat sensitif dengan isu cukai.

Perusahaan plastik sangat sensitif dengan kebijakan anti plastik.

Paham kan tentang timing ini?

Kapan masuknya? Saya juga bingung karena saham ini lebih condong ke seni.

Jika berhubungan dengan komoditas alangkah baiknya jika masuk pas harga komoditas masih rendah.

Namun jika sektor ritel kita harus mmeperhatikan kondisi dan kinerja perusahaan terlebih dahulu.

E. Berteman dengan waktu, Bersahabat dengan pikiran dan Bergandengan dengan emosi yang tenang

Jika kita bicara investasi maka kita akan bicara tentang waktu. Dan berapa lama waktunya? Masing-masing punya timeframe.

Ada yang menggunakan minimal 6 bulan

Ada yang memilih minimal 1 tahun

Ada yang memilih minimal 2 tahun.

Dan saya pribadi memilih minimal 1 sampai 3 tahun sebagai waktu tunggu bagi saham kita untuk naik dan memenuhi target cuan yang kita inginkan.

Dalam masa tunggu ini ada banyak noise yang terjadi seperti isu-isu yang dihembuskan tentang emiten pilihan kita, menyerang bahwa teknik analisa value investing yang kita gunakan sudah tidak relevan atau bahkan ada yang mengatakan in fundamental we stuck.

Hal ini sangat berhubungan dengan pikiran kita. Jangan sampai pikiran kita menjadi tidak jernih yang akhirnya mengubah plan yang sudah disusun sejak awal.

Yang terakhir adalah emosi. KUNCI memasuki bursa saham hanya 1 yaitu TENANG.

Tenang saat semua orang optimis maka kita terhindar dari greedy

Tenang saat semua orang pesimis maka kita terhindar dari fear.

Ini sedikit portofolio saya (Harga berdasar jam tutup bursa Tanggal 06 Agustus 2021) yang menggunakan 5 Jurus Sederhana ini.

 

 

===========================

Baca artikel tentang investasi Emas

Baca artikel tentang investasi Saham

Baca artikel tentang investasi Reksadana

Baca Cerita Investasi Orang Indonesia

Sumber :

1. https://www.mncsekuritas.id/

2. https://www.most.co.id/

3. https://rivankurniawan.com/

4. https://itstime.id/

5. https://doseninvestor.com/

6. https://accurate.id/

7. https://previews.123rf.com/ (Featured Image)

(Sudah dibaca 5,051 kali, Yang membaca hari ini 5 orang)

Yuk share pendapatmu di bawah ini