4 Waktu Yang TEPAT Untuk Menjual Saham Dan 2 Metode Menjual Yang PERLU Diperhatikan

Saya sudah menjelaskan step by step berinvestasi saham dan kalian bisa baca dengan pelan-pelan disini

Part 1 : Yuk Pelajari Mindset Sebelum Berinvestasi Saham (Kenali Dirimu & Pilihan Saham Yang Sesuai Profil)

Part 2 : Mendaftar Sekuritas (Masih dalam proses penulisan)

Part 3 : 5 JURUS SEDERHANA Cara Memilih Saham Menggunakan Analisa Value Investing + Contoh Sahamnya (DIJAMIN BISA)

Part 4 : Kapan Waktu Yang TEPAT Membeli Saham? Kapan Waktu Yang TEPAT Untuk Average Down Atau Average Up?

Dan di artikel kali ini saya akan memberikan tutorial kapan sebaiknya kita menjual saham walopun mungkin ada yang mau hold forever.

Apakah menjual saham selalu identik dengan cuan? Enggak juga karena nanti ada momen dimana kita HARUS menjual sahamnya walaupun kondisinya floating loss yang artinya kita harus cutloss alias jual rugi.

Lah berarti rugi donk? Iya rugi secara materi tetapi secara lebih luasnya belum tentu. Makanya simak pelan-pelan.

1. Menjual karena sudah profit

Menjual karena sudah profit jelas menjadi tujuan semua orang yang berinvestasi saham. Yang akan membedakan adalah cuan berapa?

Ada yang cuan tipis-tipis sekitar 3% per saham (Cuan tipis begini biasanya dilakukan oleh teman-teman trader. Yang penting sudah tutup biaya sekuritas saat beli dan jual. Kalo cuan 3% untungnya hanya sekitar 1% sampai dengan 2.5%)

Ada yang cuan sekitar 10-20% sesuai target returnnya (Biasanya ini value investor tetapi masih ala-ala alias targetnya yang penting cashnya tambah. Walaopun value investing enggak harus cuan bagger)

Ada yang cuan 1 bagger

Ada yang cuan ratusan hingga ribuan persen alias multibagger (Ini biasanya dilakukan oleh para value investor yang memang modalnya sudah kuat dan kesabarannya sudah panjang).

Trus kita yang pemula ini sebaiknya gimana?

Saran saya ada 2 :

a. Ketika harga wajar saham sudah menyentuh harga wajarnya.

Contohnya ketika saya di artikel ini (Kapan waktu yang tepat membeli saham) membeli saham AYAM.

Setelah dihitung ternyata harga wajarnya Rp 1000 dan saat dibeli harganya masih Rp 300.

Jika menggunakan saran no 1 ini maka saya akan menjual sahamnya di harga Rp 1000 kapanpun harga tersebut tercapai asalkan kinerja perusahaan masih bagus.

Jika berhasil menjual di harga Rp 1000 dengan harga pembelian Rp 300 berarti sudah bisa cuan di atas 300% alias multibagger.

b. Ketika cuan sesuai target tahunan

Saya beberapa kali menggunakan konsep no 2 ini yaitu cuan disesuaikan dengan target tahunan.

Contohnya begini, saya mempunyai modal Rp 100juta dan target tahunannya cuan 20% alias Rp 20juta.

Nah untuk mencapai target Rp 20juta itu saya belikan saham dan salah satunya saham AYAM katakanlah dengan jumlah 1000 lot (Rp 30juta).

Saat saya membeli saham AYAM harganya Rp 300 dengan harga wajar Rp 1000.

Namun saat harganya menyentuh Rp 360 alias cuan 20% saham AYAM saya jual. Berarti saya cuan Rp 6juta.

Nah berarti target cuan tahunan kurang Rp 14juta (Rp 20juta sebagai target tahunan dikurangi Rp 6juta cuan dari saham AYAM).

Terus gimana kalo saham AYAM terbang terus sampai ke harga Rp 1000? Ya sudah berarti bukan rejeki saya.

Saya cuma fokus untuk mengumpulkan cuan Rp 20juta setahun.

2. Menjual karena company risk/ bisa cutloss

Waduh kok cutloss?

Wah apa itu company risk?

Tenang-tenang. Bagian menjual karena company risk ini juga bagian dari strategi menjual saham walopun memang agak nyesek..hehe

Sebelum membahas company risk saya akan menjelaskan sedikit tentang market risk.

Lah apalagi market risk itu?

Market risk adalah kondisi dimana pasar memang berubah karena adanya faktor eksternal seperti adanya pandemi, adanya krisis ekonomi atau adanya bencana alam dan alasan lainnya.

Market risk ini sebenarnya terjadi karena kepanikan para investor atau trader terhadap krisis yang ada sehingga membuat mereka menjual sahamnya di harga murah dan kasus pada Maret 2020 terjadi kepanikan karena menyebarnya virus corona di Indonesia dan penurunan harga komoditas.

Bahkan BEI sampai mengeluarkan beberapa aturan terkait kepanikan ini diantaranya aturan trading halt.

Sumber : https://katadata.co.id/happyfajrian/finansial/5e9a42159bac0/mulai-hari-ini-bursa-setop-perdagangan-30-menit-jika-ihsg-turun-5

Trading halt adalah penghentian perdagangan selama 30 menit karena IHSG turun dalam batas tertentu

Market risk bisa menyebabkan harga saham emiten turun bahkan terjun bebas.

Contohnya adalah harga saham Bank BRI saat adanya pandemi corona. Saham Bank BRI masuk ke kriteria market risk yang menyebabkan harga sahamnya turun.

Perhatikan saham Bank BRI di tahun 2020 tanggal 15 Mei 2020. Harganya turun sangat dalam dari kisaran Rp 4000 ke Rp 2240 atau hampir turun 50%.

Harga saham yang menurun inilah yang disebut dengan market risk. Umumnya kondisi market risk ini berdampak pula dengan kinerjanya yang juga menurun. Tetapi ada beberapa emiten yang terkena market risk namun kinerjanya tetap bahkan malah lebih tinggi.

Salah satunya adalah saham SIDO.

Jadi market risk tahun 2020 diakibatkan kepanikan pasar akan adanya wabah pandemi corona. SIDO mempunyai bisnis penjualan jamu herbal. Karena pandemi ini penjualan SIDO justru meningkat walaupun harganya turun.

Simak 2 gambar berikut

Harga saham SIDO ketika bulan Maret 2020 turun dari kisaran Rp 600 menjadi Rp 485 artinya terkena market risk.

Tetapi lihat EPS dari SIDO di Q2 dan Q3 Tahun 2020 yang justru meningkat

Sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/hingga-kuartal-iii-2020-penjualan-sido-muncul-sido-tumbuh-61

Paham ya tentang market risk.

Nah sekarang saya mau cerita tentang company risk.

Company risk adalah krisis atau problem yang terjadi dalam diri emiten yang diakibatkan oleh kinerja perusahaan yang menurun. Company risk masih dibagi 2 :

a. Company Risk karena faktor eksternal

b. Company risk karena faktor internal

a. Company risk faktor eksternal

Company risk faktor eksternal adalah kondisi dimana perusahaan memiliki masalah dengan kinerja perusahaan yang diakibatkan oleh faktor lain seperti adanya pandemi, krisis ekonomi, bencana alam, harga komoditas menurun dan lainnya sehingga kinerja bisnisnya menjadi terganggu untuk sementara waktu.

Ciri-ciri paling terlihat ketika perusahaan mengalami company risk faktor eksternal adalah saat adanya krisis kinerja perusahaan menurun, namun saat problemnya hilang kinerjanya akan kembali membaik.

Perhatikan gambar di atas.

Kinerja Bank BRI di Q2,Q3 dan Q4 Tahun 2020 menurun drastis dibanding tahun 2019 dan q1 2021.

Semua perusahaan di Indonesia kinerjanya hampir semua menurun. Namun ketika pandemi sedikit berkurang kinerjanya kembali membaik yang dibuktikan dengan laporan keuangannya.

Dengan kondisi di atas kita tidak perlu menjual saham yang kita miliki walopun kinerjanya menurun.

2. Company risk faktor internal

Company risk faktor internal adalah kondisi dimana perusahaan memiliki masalah dengan kinerja perusahaan yang diakibatkan oleh faktor dari dalam seperti bobroknya manajemen, laporan keuangan yang dimanipulasi dll.

Contohnya yang mungkin bisa menjadi pelajaran adalah saham AISA.

Sumber : https://www.teguhhidayat.com/2020/09/prospek-aisa-setelah-diakuisisi-fks.html

Kalian bisa membaca ceritanya secara lengkap tentang perusahaan AISA ini di website Pak Teguh Hidayat disini

Dan ini efek dari kebobrokan manajemen yang membuat saham AISA di suspend selama 2 tahun

Sumber :https://www.cnbcindonesia.com/market/20200831123916-17-183249/aktif-lagi-usai-2-tahun-suspensi-saham-aisa-keok-7

Jadi sudah paham to bedanya market risk dan company risk.

Kesimpulannya untuk poin 2 adalah

  • Jika saham turun karena MARKET RISK SAJA sebaiknya JANGAN DIJUAL malah kalo bisa terus akumulasi
  • Jika saham turun karena COMPANY RISK FAKTOR EKSTERNAL sebaiknya JANGAN DIJUAL malah kalo bisa terus akumulasi
  • Jika saham turun karena COMPANY RISK FAKTOR INTERNAL sebaiknya DIJUAL.

3. Menjual karena salah analisa

Dalam membeli saham ada banyak analisa yang digunakan seperti

  • value investing (saham fundamental bagus yang masih undervalue)
  • growth stock (saham fundamental istimewa yang harganya masih wajar/fair price)
  • core investing (saham market leader)
  • dividen investing (saham yang rutin membagikan dividen dengan div yield yang besar)

Tetapi walopun sudah menganalisa dengan cermat tetap ada ruang untuk melakukan kesalahan atau salah menganalisa.

Salah menganalisa bisa saja terjadi karena kita tidak mungkin mengakses emiten dengan sepenuhnya. Kita hanya bisa menganalisa perusahaan dari Laporan Keuangan, Laporan Tahunan dan berita yang muncul.

Oleh karena itu jika kita kita sudah menganalisa dan ternyata salah maka sebaiknya DIJUAL saja. Syukur masih profit ataupun pas Minus ya enggak apa-apa alias Cut Loss

Cerita yang paling kondang adalah ketika Pak Lo Kheng Hong masuk ke saham BUMI.

Beliau menganalisa menggunakan cadangan batubara BUMI yang sangat banyak bahkan terbesar di Indonesia. Namun di kemudian hari beliau bilang bahwa kesalahan beliau adalah tidak menganalisa GCG alias Good Corporate Government.

Walaupun memang beliau tetap cuan namun beliau mengatakan bahwa “Pelajaran utama yang saya dapat adalah jangan membeli perusahaan yang tata kelola dan manajemen yang tidak baik.”

Kisah Pak Lo Kheng Hong ini bisa disimak di website milik Pak Lukas disini

Saya pernah salah analisa juga terkait saham UNVR. Waktu itu memang saya tidak menggunakan pendekatan vakue inevsting tetapi core investing.

Saya menghitung dividen yield UNVR dan mengira bahwa div yieldnya tinggi. Saya langsung membeli di harga 8200an.

Setelah beberapa saat saya hitung ulang div yieldnya dan ternyata sangat rendah. Saya langsung cutloss di harga 8100 (Untung cuma minus Rp 100).

4. Menjual karena menemukan saham yang lebih bagus

Bursa saham sangat fluktuatif per menitnya. Ada yang 1 menit yang lalu masih overvalue tiba-tiba 1 menit berikutnya sudah undervalue.

Ada yang tadinya undervalue tiba-tiba sudah overvalue.

Sebenarnya prinsip menjual karena menemukan saham yang lebih bagus ini bisa diatasi sebelum kita membeli sahamnya.

Saya sudah menulis di artikel ini (Kapan saat yang tepat membeli saham). Di artikel itu saya menyebutkan tentang MOS alias Margin of Safety dimana kita akan berjaga-jaga jika ada salah analisa atau menjaga jarak dari harga wajar dengan harga beli.

Ingat saham AYAM yang saya beli di harga Rp 300 dan harga wajarnya Rp 1000?

MOSnya kira-kira sekitar 300%.

Nah ketika iseng-iseng membaca sana sini tiba-tiba saya menemukan saham KUDA yang harga wajarnya Rp 1000 dan sekarang harganya hanya Rp 100.

Bagaimana kalo situasinya seperti itu?

  1. Jika masih ada dana di RDN bisa beli keduanya
  2. Jika tidak ada dana dan saham AYAM sudah profit bisa dijual dan diganti saham KUDA
  3. Jika ternyata saham AYAM minus maka bisa menunggu saham AYAM profit sembari menunggu saham KUDA lebih turun
  4. Jika ternyata saham KUDA potensi terbang karena kinerjanya naik luar biasa maka bisa cutloss di saham AYAM dan membeli saham KUDA

Gimana sudah paham kan?

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Follow Instagram InveStory ID untuk hiburan bursa saham

Di atas kan sudah dijelaskan alasan-alasan mengapa kita menjual saham. Nah kali ini saya akan membahas tentang cara menjualnya.

Bukan tutorial cara menjual saham ya..Harusnya sih kalian sudah bisa.

Yang akan saya bahas bagaimana metode penjualannya karena banyak sekali di luaran yang membahas seperti ini

  • Juallah saham kalo udah cuan 5%
  • Juallah saham kalo sudah cuan di atas biaya beli n jual alias minimal 3% (angka 3% biar aman karena ada beberapa broker yang biayanya di atas 0.18% dan 0.28%)
  • Jual aja kalo sudah untung 10%
  • Jual aja kalo sudah untung minimal 50%
  • Atau jual aja kalo sudah ketemu harga wajarnya

Trus masih ada tambahan lagi

  • Jual semua
  • Jual sebagian atau 50% total lot yang kita punya
  • Jual bertahap 20% atau 30% dulu.

Bingung kan?

Saya akan menjelaskan pelan-pelan ya

Dari 2 problem di atas maka ada 2 opsi pembahasan yaitu :

1. Problem cuannya

2. Problem lotnya.

Solusinya ada banyak, namun saya akan memberikan penjelasannya masing-masing

1. Jual semua lot jika sudah sampai di harga wajarnya

Konsep value investing memang idealnya akan menjual sahamnya jika harga saham sudah mencapai harga wajarnya.

2. Jual full lot setelah untung minimal 20%

Ini yang saya lakukan saat ini karena saya malas menjual sebagian-sebagian. Menurut saya terlalu ribet dan mungkin tidak cocok bagi teman-teman.

Kenapa 20%?

Karena sesuai target tahunan saya sendiri.

3. Jual sebagian lot di keuntungan tertentu

Teknik ini agak ribet tapi hasilnya jauh lebih optimal dibanding poin no 1.

Misal ada saham AYAM kita beli di harga Rp 500 sebanyak 10 lot. Harga wajarnya Rp 1000.

Saat saham AYAM naik ke harga Rp 800 kita bisa jual 5 lot dulu. Jika terbang lagi maka bisa dijual sisanya alias 5 lot.

Jika turun lagi maka uang hasil penjualan di harga Rp 800 bisa digunakan untuk membeli saham AYAM lagi dan tentunya mendapat lot yang lebih banyak.

Paham ya…

Belajar Langsung Analisa Value Investing GRATIS Via Telegram di

Follow Instagram InveStory ID untuk hiburan bursa saham

(Sudah dibaca 827 kali, Yang membaca hari ini 2 orang)

Yuk share pendapatmu di bawah ini